Jangan juga engkau jadikan putrimu sebagai barang dagangan dengan menetapkan mahar yang tinggi, atau engkau menyuruhnya bekerja menjual aurotnya, atau engkau membiarkannya berikhtilath dan merusak dirinya, sungguh wahai abi... engkau akan dimintai pertanggung jawaban akan putrimu...
Dengan penjagaanmu dan baiknya engkau menjaga amanah berupa putri-putrimu, maka engkau berhak meraih jannah, engkau dijauhkan dari api neraka. Seorang shahabat, ‘Uqbah bin ‘Amir rodhiyalloohu ‘anhu pernah mendengar Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
مَنْ كَانَ لَهُ ثَلاَثُ بَنَاتٍ، فَصَبَرَ عَلَيْهِنَّ، وَأَطْعَمَهُنَّ، وَسَقَاهُنَّ، وَكَسَاهُنَّ مِنْ جِدَتِهِ، كُنَّ لَهُ حِجَابًا مِنَ النَّارِ يَوْمَ القِيَامَةِ
Dalam riwayat dari Anas bin Malik rodhiyalloohu ‘anhu, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam juga menyebutkan kedekatannya dengan orang tua yang memelihara anak-anak perempuan mereka dengan baik kelak pada hari kiamat:
مَنْ عَالَ جَارِيَتَيْنِ حَتَّى تَبْلُغَا جَاءَ يَوْمَ الْقِيَامَةِ أَنَا وَهُوَ -وَضَمَّ أَصَابِعَهُ-
Tidak hanya itu saja, dalam berbagai riwayat Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam juga menggaris bawahi hal ini. Jabir bin Abdillah mengatakan, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah bersabda :
مَنْ كَانَ لَهُ ثَلاَثَُ بَنَاتٍ، يُؤْوِيْهِنَّ، وَيَكْفِيْهِنَّ، وَيَرْحَمُهُنَّ، فَقَدْ وَجَبَتْ لَهُ الْجَنَّةُ الْبَتَّةَ. فَقَالَرَجُلٌ مِنْ بَعْضِ القَوْمِ: وَثِنْتَيْنِ، يَا رَسُوْلَ اللهِ؟ قَالَ: وَثِنْتَيْن
Abdullah bin ‘Abbas rodhiyalloohu ‘anhuma juga meriwayatkan dari beliau Shallallahu ‘alaihiwa sallam
مَا مِنْ مُسْلِمٍ تُدْرِكُهُ ابْنَتَانِ، فَيُحْسِنُ صُحْبَتَهُمَّا،إِلاَّ أَدْخَلَتَاهُ الْجَنَّةَ
Sungguh betapa menghidupi dan menafkahi para putri-putri kita begitu besar keutamaannya, melindungi kilauan kehormatan putri kita begitu dekat kedudukannya dengan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam, dan janji jannah ada di hadapan kita, janji dari Allooh Ta'ala.
Wahai abi... apakah engkau tega akan merusak putrimu dan menjadikannya sebagai bahan perahan yang engkau ambil hasilnya, janganlah kalian memaksa putri-putri kalian bekerja keluar rumah hingga merusak dirinya, kecuali putrimu bekerja pada apa yang menjadi haknya. Maka bersabarlah jika engkau dikaruniai anak-anak perempuan, sungguh Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam juga memiliki 4 putri yang sholihah... Alloohul musta'an.
Betapapun sayangnya seorang bapak kepada anaknya, maka hendaknya ia tetap memperhatikan perilaku putri-putrinya,mendidik dengan penuh kebaikan dan kelembutan, namun suatu saat jika diperlukan, maka boleh saja memukul putrinya.
Hatta ketika putrinya sudah dewasa dan telah menjadi istri orang lain, tidak boleh orang tua berlepas diri dari keadaan si putri dan membiarkannya tanpa pendidikan adab atau nasihat yang membuatnya patuh dan berbuat baik kepada suami. Seorang bapak tetap memiliki kewajiban untuk mendidik putri-putrinya dan membimbingnya dalam kebaikan semampu mereka.Inilah keadaan sayangnya Abu Bakar rodhiyalloohu 'anhu kepada putrinya ketika sakit. Diceritakan oleh Al-Bara` bin ‘Azib rodhiyalloohu ‘anhu:
دَخَلْتُ مَعَ أَبِي بَكْرٍ عَلَى أَهْلِهِ، فَإِذَا عَائِشَةُ ابْنَتُهُ مُضْطَجِعَةٌ قَدْ أَصَابَتْهَا حُمَّى، فَرَأَيْتُ أَبَا بَكْرٍ يُقَبِّلُ خَدَّهَا وَقَالَ: كَيْفَ أَنْتِ يَا بُنَيَّةُ؟
Namun ketika sang putri melakukan hal yang menyusahkan suaminya, maka sang bapak ketika mengetahuinya tidak boleh tinggal diam, hendaknya dia memberikan nasihat dan peringatan kepada putrinya.Ini dapat kita lihat dari kehidupan seseorang yang terbaik setelah Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam, Abu Bakr Ash-Shiddiq radhiyallahu ‘anhu, dalam peristiwa turunnya ayat tayammum. Diceritakan peristiwa ini oleh ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha
خَرَجْنَا مَعَ رَسُوْلِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِي بَعْضِ أَسْفَارِهِ حَتَّى إِذَا كُنَّا بِالْبَيْدَاءِ أَوْ بِذَاتِ الْجَيْشِ انْقَطَعَ عِقْدٌ لِي، فَأَقَامَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَلَى التِّمَاسِهِ، وَأَقَامَ النَّاسُ مَعَهُ، وَلَيْسُوا عَلَى مَاءٍ. فَأَتَى النَّاسُ إِلَى أَبِي بَكْرٍ الصِّدِّيْقِ فَقَالُوا: أَلاَ تَرَى مَا صَنَعَتْ عَائِشَةُ؟ أَقَامَتْ بِرَسُوْلِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَالنَّاسِ، وَلَيْسُوا عَلَى مَاءٍ وَلَيْسَ مَعَهُمْ مَاءٌ. فَجَاءَ أَبُو بَكْرٍ وَرَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَاضِعٌ رَأْسَهُ عَلَى فَخِذِي قَدْ نَامَ. فَقَالَ: حَبَسْتِ رَسُوْلَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَالنَّاسَ، وَلَيْسُوا عَلَى مَاءٍ وَلَيْسَ مَعَهُمْ مَاءٌ. فَقَالَتْ عَائِشَةُ: فَعَاتَبَنِي أَبُو بَكْرٍ وَقَالَ مَا شَاءَ اللهُ أَنْ يَقُوْلَ، وَجَعَلَيَطْعُنُنِي بِيَدِهِ فِي خَاصِرَتِي، فَلاَ يَمْنَعُنِي مِنَ التَّحَرُّكِ إِلاَّ مَكَانُ رَسُوْلِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَلَى فَخِذِي. فَقَامَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ حِيْنَ أَصْبَحَ عَلََى غَيْرِ مَاءٍ، فَأَنْزَلَ اللهُ آيَةَ التَّيَمُّمِ، فَتَيَمَّمُوا. فَقَالَ أُسَيْدُ بْنُ الْحُضَيْرِ: مَا هِيَ بِأَوَّلِ بَرَكَتِكُمْ يَا آلَ أَبِي بَكْرٍ. قَالَتْ: فَبَعَثْنَا البَعِيْرَ الَّذِي كُنْتُ عَلَيْهِ، فَأَصَبْنَا العِقْدَ تَحْتَهُ“
Al-Imam An-Nawawi rohimahulloohu mengatakan bahwa di dalam hadits ini terkandung ta`dib (pendidikan adab) seseorang terhadap anaknya, baik dengan ucapan, perbuatan, pukulan, dan sebagainya. Di dalamnya juga terkandung ta`dib terhadap anak perempuan walaupun dia telah dewasa, bahkan telah menikah dan tidak lagi tinggal di rumahnya. (Syarh Shahih Muslim, 4/58)
Dalam hadits yang dikeluarkan Al-Imam Muslim rohimahulloohu dari Jabir bin Abdillah rodhiyalloohu ‘anhuma. Jabir mengisahkan:
دَخَلَ أَبُوْ بَكْرٍ يَسْتَأْذِنُ عَلَى رَسُوْلِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَوَجَدَ النَّاسَ جُلُوْسًا بِبَابِهِ، لَمْ يُؤْذَنْ لِأَحَدٍ مِنْهُمْ. قَالَ: فَأُذِنَ لِأَبِي بَكْرٍ، فَدَخَلَ. ثُمَّ أَقْبَلَ عُمَرُ فَاسْتَأْذَنَ، فَأُذِنَ لَهُ، فَوَجَدَ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ جَالِسًا، حَوْلَهُ نِسَاؤُهُ، وَاجِمًا سَاكِتًا
Lalu Jabir melanjutkan haditsnya, di antaranya disebutkan ucapan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam:
هُنَّ حَوْلِي كَمَا تَرَى، يَسْأَلْنَنِي النَّفَقَةَ. فَقَامَ أَبُوْ بَكْرٍ إِلَى عَائِشَةَ يَجَأُ عُنُقَهَا، فَقَامَ عُمَرُ إِلَى حَفْصَةَ يَجَأُ عُنُقَهَا، كِلاَهُمَا يَقُوْلُ: تَسْأَلْنَ رَسُوْلَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَا لَيْسَ عِنْدَهُ؟ فَقُلْنَ: وَاللهِ، لاَ نَسْأَلُ رَسُوْلَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ شَيْئًا أَبَدًا لَيْسَ عِنْدَهُ. ثُمَّ اعْتَزَلَهُنَّ شَهْرًا أَوْ تِسْعًا وَعِشْرِيْنَ يَوْمًا
Maka wahai para bapak... tugasmu mendidik putri-putrimu... hingga nafas memisahkan antara engkau dan putrimu, entah engkau lebih dahulu meninggal dari putrimu, atau putrimu lebih dahulu meninggal mendahuluimu.Walloohu Ta'ala a'lam.
Copas dari status Facebook Andi Abu Hudzaifah Najwa

0 komentar:
Posting Komentar