“Tidak ada suatu amalan yang lebih utama daripada menimba ilmu jika disertai dengan niat yang lurus.” (Tajrid al-Ittiba’ fi Bayan Asbab Tafadhul al-A’mal, hal. 26)
Jumat, 16 Januari 2015

22.20
Ketahuilah bahwasanya qalbu yang sakit adalah qalbu yang terhalang dari sesuatu yang dia diciptakan untuknya berupa mengenal Allah Azza wa jala, mencintai-Nya, rindu bertemu dengan-Nya, berpulang kepada-Nya, dan mengedepankan itu semua atas seluruh keinginan.

Kalau seandainya seorang hamba mengetahui segala sesuatu tetapi ia tidak mengenal Rabb-Nya, maka seolah-olah dia tidak mengetahui sesuatu apapun.

Kalau seandainya dia mencapai keberuntungan dari keberuntungan dunia, kenikmatan dan keinginannya, tetapi tidak meraih rasa mencintai Allah Azza wa jala, kerinduan kepadanya dan menghibur diri dengannya, maka seolah-olah dia belum meraih satu kelezatan, kenikmatan, dan penyejuk mata sama sekali.

Bahkan apabila qalbu kosong dari yang demikian itu, maka berbagai keberuntungan dan kelezatan dunia itu akan berbalik menjadi adzab baginya dan pasti terjadi. Maka menjadilah dia seorang yang diadzab dengan sesuatu yang dia diberi nikmat dengannya dari dua sisi:

(1) Dari sisi penyesalan akan hilangnya kesenangan yang luput darinya dan bahwasanya telah dihalangi antara dia dengan kesenangan itu padahal jiwanya sangat bergantung pada kesenangan itu (tidak pernah puas dengan dunia)
(2) Dari sisi kehilangan sesuatu yang lebih baik baginya, lebih bermanfaat, dan lebih kekal, yang dia tidak bisa mendapatkannya. (tidak mendapatkan pahala akhirat)

Maka kesenangan yang dia cintai lenyap, sedangkan perkara yang mesti dia cintai yang lebih agung nilainya tidak ia dapatkan (rugi dunia akhirat).

Dan setiap orang yang mengenal Allah Subhanahu wata’ala pasti mencintai-Nya dan memurnikan ibadah kepada-Nya, demikianlah. Dia tidak akan mengedepankan atasnya selain dari kecintaannya. Maka barangsiapa mengedepankan atasnya selain dari kecintaannya menunjukkan qalbunya sakit. Sebagaimana lambung, jika ia membiasakan dan mengedepankan makanan yang kotor daripada yang baik maka seleranya kepada makanan yang baik akan hilang dan akan berganti dengan kecintaan kepada selainnya.

Terkadang qalbunya berpenyakit dan semakin parah sakitnya, tetapi pemiliknya tidak menyadarinya, karena dia sibuk dan berpaling dari mengetahui kesehatan qalbu dan sebab-sebabnya. Bahkan bisa jadi qalbunya mati sementara pemiliknya tidak merasa dengan kematian qalbunya. Tanda-tanda yang demikian itu, bahwasanya qalbunya tidak merasa sakit dengan luka-luka yang disebabkan perbuatan buruk dan qalbunya tidak pula merasa sakit dengan kebodohannya terhadap al haq (kebenaran) dan kebodohannya terhadap aqidah (keyakinan) yang bathil.

Karena sesungguhnya qalbu itu bila padanya terdapat kehidupan akan merasa sakit dengan datangnya perkara-perkara buruk atasnya dan akan merasa sakit dengan kebodohannya terhadap al haq (kebenaran). Ini semua sesuai dengan kadar kehidupan qalbunya.

Dikatakan dalam sebuah bait syair Al-Mutanabbi, “Siapa yang lemah maka kelemahan itu mudah menguasainya. Dan tidaklah mayat merasa sakit karena terluka.” (Lihat Diwan Al-Mutanabbi)

Dan terkadang pemiliknya merasa dengan penyakit qalbunya akan tetapi terasa berat atasnya menanggung pahitnya obat serta untuk bersabar atasnya, sehingga ia lebih memilih tetap berada dalam sakitnya daripada menanggung pahitnya obat.

Sebenarnya obat untuk qalbu yang sakit adalah mukhalafatul hawa’ (dengan menyelisihi hawa nafsu), dan yang demikan itu adalah perkara yang paling sulit atas jiwa seseorang. Dan tidak ada bagi jiwa manusia yang lebih bermanfaat daripada menyelisihi hawa nafsu.

Dan terkadang pula, ia menanamkan jiwanya untuk bersabar. Akan tetapi azzamnya kemudian hilang, dan ia pun tidak melanjutkan niatnya yang buruk karena lemahnya ilmu, bashirah, dan kesabarannya. Seperti orang yang menempuh suatu jalan yang menakutkan yang sebenarnya jalan itu mengantarkannya pada situasi yang paling aman, sementara dia mengetahui jika ia mau bersabar atasnya, maka ketakutan itu akan sirna dan berganti dengan keamanan. Maka dia membutuhkan pada kekuatan kesabaran dan kekuatan keyakinan terhadap apa yang dijalaninya.

Dan ketika kesabaran dan keyakinannya melemah, maka dia pun akan kembali dari jalan tersebut, dan tak mampu menanggung kesulitannya, apalagi jika ia tidak merasa memiliki teman dan merasa ngeri dengan kesendiriannya, sehingga menjadikannya bertanya-tanya, “Ke manakah orang-orang pergi? Aku ingin mengikuti jejak mereka!”

Demikianlah kondisi kebanyakan makhluk, dan inilah yang membinasakan mereka. Maksudnya, di antara tanda-tanda qalbu yang sakit yaitu ia berpaling dari makanan yang bermanfaat dan sesuai kepada makanan yang membahayakan, serta ia berpaling dari obat yang bermanfaat kepada penyakit yang berbahaya. Dari sini kita dapatkan empat unsur: Makanan yang bermanfaat, obat yang menyembuhkan, makanan yang membahayakan, dan obat yang menghancurkan.

[Disalin dari kitab Ighatsatul Lahfan min Masyahid Asy-Syaithan, Karya Al Imam Ibnul Qayyim Al Jauziyyah rahimahullah]

0 komentar:

Posting Komentar