“Tidak ada suatu amalan yang lebih utama daripada menimba ilmu jika disertai dengan niat yang lurus.” (Tajrid al-Ittiba’ fi Bayan Asbab Tafadhul al-A’mal, hal. 26)
Selasa, 13 Januari 2015

09.27
Disaat hidayah itu menyapa, seorang muslimah meneguhkan hatinya untuk mengenakan hijab syar'iy. Keimanan dan rasa malu membuatnya berusaha menutup aurotnya sebagaimana yang diperintahkan oleh Robb-nya, meski ia baru saja mengenal kebenaran itu, namun hatinya telah terpesona, sungguh iman itu semakin kuat bertahta dijiwanya, bagaikan mentari yang cerah menampakkan sinarnya menerangi kegelapan kejahilannya selama ini.

Namun cerahnya sinar mentari itu harus tertutup awan, hujan dan badai pun ada di depannya untuk menghadang, tentangan yang terkuat baginya untuk berhijab syar'iy justru berasal dari orang-orang yang dicintainya, dari orang tuanya, saudara-saudarinya, serta kerabatnya. Betapa tentangan itu begitu kuat ia rasakan, sedang dirinya hanyalah seorang muslimah biasa, yang masih lagi menggantungkan dirinya di bawah lindungan dan perwalian orang tuanya. Ia diancam, dicaci dan diasingkan. Begitu besar beban dan kesedihan yang harus ditanggungnya sendiri dalam tekanan yang merisaukan dirinya.

Namun bagaimanapun juga ia meyakini, bahwa pelangi akan muncul setelah hujan itu, indahnya sinar mentari akan ditemani dengan warna-warni bias pelangi, ia meneguhkan hatinya dan tetap istiqomah di atas sunnah, dikenakannya hijab dan cadarnya, diterimanya cacian dan hinaan serta celaan. Dengan sabarnya, rasa syukurnya, dengan ketaqwaannya, ia berusaha meraih pertolongan Allooh yang pasti akan datang mengangkat kesedihannya. Ia yakin mentari akan bersinar lagi, dan ia berharap saat itu tak lagi sendiri, semoga terdapat tangan kekar yang dihalalkan untuknya menggandeng tangannya, menyusuri jalanan berbatu bersama-sama, di bawah naungan 'ilmu, saling menguatkan dan membagi bahagia dan kesedihan. Ia berharap kelak tangan itu tetap menuntunnya hingga hari terakhir ia melihat sinar mentari dalam kehidupannya, untuk menemui ridho Robb-nya, menutup lembaran hidupnya dengan khusnul khotimah.

Disalin dari tausiyah Abu Hudzaifah Najwa di Page FB, Selasa, 8 April 2014, 23.02 PM

0 komentar:

Posting Komentar